Selamat Datang!!!! Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Posting

Sosiologi Masyarakat Perikanan (SOSMAPI) - Laporan Praktikum


BAB I.PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia atau masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses-proses sosial, dan perubahan sosial. Hal ini di perkuat oleh Yunindyawati (2010), bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia atau masyarakat. Auguste Comte memberikan istilah sosiologi sebagai suatu disiplin akademis yang mandiri. Atas upaya ini Comte dikenal sebagai “Bapak Sosiologi”.
Masyarakat nelayan sebagai komunitas wilayah pesisir, sering kali tersisih dari pembangunan sebab prioritas kebijakan pemerintah lebih terfokus kepada sektor pertanian atau daratan. Kehidupan nelayan yang masih menggantungkan nasib kepada hasil laut, masih dalam taraf sederhana dengan pola mata pencaharian menggunakan teknologi tradisional. Disamping alat tangkap mereka sudah jauh tertinggal, mereka melaut juga pada area penangkapan yang terbatas di wilayah pesisir. Rendahnya daya jelajah nelayan ini, semakin menambah sulit nelayan memperbaiki kualitas hidupnya. Dibandingkan nelayan negara tetangga seperti Malaysia, Jepang dan lainnya. Nelayan Indonesia umumnya memanfaatkan hasil laut adalah untuk bertahan hidup. Kondisi masyarakat nelayan atau pesisir merupakan kelompok masyarakat yang relatif tertinggal secara ekonomi, sosial (khususnya dalam hal akses pendidikan dan layanan kesehatan), dan kultural dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Kondisi masyarakat pesisir atau masyarakat nelayan di berbagai kawasan pada umumnya ditandai oleh adanya beberapa ciri, seperti kemiskinan, keterbelakangan sosial-budaya, rendahnya sumberdaya manusia karena sebagian besar penduduknya hanya lulus sekolah dasar atau belum tamat sekolah dasar, dan lemahnya fungsi dari keberadaan Kelompok Usaha Bersama (KMB), Lembaga Keuangan Mikro (LKM), atau kapasitas berorganisasi masyarakat.
          Masyarakat pesisir seharusnya merupakan masyarakat yang sejahtera karena potensi sumberdaya alamnya yang besar. Sumberdaya pesisir adalah sumberdaya alami hayati seperti ikan dan biota laut lainnya dan sumberdaya non hayati seperti pasir dan sumberdaya buatan serta jasa-jasa lingkungan yang berupa keindahan panorama alam yang terdapat di wilayah pesisir. Namun pada kenyataannya sebagian besar masyarakat pesisir masih merupakan bagian dari masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Melonjaknya harga bahan bakar minyak dan keterbatasan terhadap akses permodalan semakin memperparah kehidupan mereka, maka untuk mengatasi hal tersebut, dibentuklah Program Pemberdayaan Masyarakat nelayan yang dikhususkan untuk masyarakat nelayan melalui pengembangan kultur kewirausahaan dan penggalangan partisipasi masyarakat. Sejak dulu program pemberdayaan masyarakat nelayan belumlah tergarap secara proporsional. Pemanfaatan sumberdaya alam kelautan masih dilakukan secara parsial dan kurang didukung oleh teknologi yang tepat guna sehingga hasil yang diperoleh kurang maksimal. Kenyataan tersebut berdampak pada hidup dalam garis kemiskinan. Hal ini diperkuat oleh Horton, et.al (1991) yang menyatakan bahwa masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, cukup lama hidup bersama, mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya di dalam kelompok tersebut. Unsur – unsur masyarakat sebagai sekelompok manusia :
a.       manusia yang hidup bersama
b.      bercampur dalam waktu yang lama
c.       sadar sebagai suatu kesatuan
d.      sadar sabagai suatu sistem hidup bersama
Praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan juga dimaksudkan untuk mengetahui profil dari masing-masing nelayan yang memiliki ciri karakteristik kepribadian yang berbeda di setiap individu.Dengan mengutamakan ciri khas dari daerahnya, maka dapat dengan mudah dianalisis dalam praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan ini.Sosiologi Ekonomi merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan fenomena ekonomi, terutama terkait dengan aspek produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang, jasa, dan sumber daya, yang bermuara pada bagaimana masyarakat mencapai kesejahteraan.Sosiologi Ekonomi menunjukkan perkembangan yang eksplosif sejalan dengan berbagai permasalah sosial ekonomi masyarakat, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang yang sedang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui berbagai kebijakan pembangunan.
Dalam praktikum ini kami mendapatkan bidang tentang sosial dan kelembagaan. Kelembagaan sosial ialah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas – aktivitas untuk memenuhi kompleks - kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Kelembagaan sosial juga dimaknai sebagai himpunan norma – norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Kelembagaan sosial yang dimaksutkan disini misalkan adanya kelompok paguyuban atau patembayan ataupun kelompok masyarakat nelayan lainnya. Hal ini diperkuat oleh Gurning et al (2012), yang menyatakan bahwa kelompok diterjemahkan dari kata group diartikan secara harfiah sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang mengadakan interaksi baik secara fisik atau juga psikologi dengan konstan. Atau juga sebagai suatu kesatuan yang dibentuk untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
Keadaan umum daerah di Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari ini memiliki potensi perikanan yang melimpah, terbukti dari banyaknya masyarakat yang mata pencahariannya berada pada sektor perikanan. Pada daerah ini terdapat 1 lokasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI). TPI ini mulai ramai pada saat para nelayan kembali dari kegiatan penangkapannya yaitu pada pukul 12.00 WIB. Di daerah ini memiliki perairan yang payau sehingga mempunyai potensi perikanan yang melimpah. Sebagian besar masyarakat dalam satu keluarga bekerja pada sektor perikanan yaitu kepala keluarga sebagai nelayan dan pada bidang pengolahan dan pemasaran dilakukan oleh anggota yang lain. 

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1.          Gambaran Umum Lokasi Praktikum
Berdasarkan praktikum sosiologi masyarakat perikanan diadapatkan letak Geografis Desa Gempolsewu adalah salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal Propinsi Jawa Tengah. Desa ini memiliki luas 219,700 Ha. Ia berada pada ketinggian 0 sampai dengan 2 meter diatas permukaan laut, sehingga desa Gempolsewu merupakan daerah pesisir pantai utara Jawa. Kemudian ketinggian di wilayah sebelah selatan yang merupakan dataran rendah yaitu antara 2 sampai dengan 10 meter dari permukaan laut. Desa Gempolsewu memiliki batas-batas wilayah yaitu: a) Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sendang Sikucing b) Sebelah timur berbatasan dengan Desa Gebang Anom atau Bulak c) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Rowosari d) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Yosorejo Kabubapten Batang Adapun jarak Desa Gempolsewu ke kota Propinsi Jawa Tengah yaitu 53 km, jarak Desa Gempolsewu ke kota Kabupaten Kendal yaitu 21 km, jarak Desa Gempolsewu ke kota Kecamatan Rowosari yaitu 2 km. Dilihat dari segi lokasi, Desa Gempolsewu merupakan desa yang kurang strategis karena jarak Desa Gempolsewu ke jalan pantura (Semarang-Jakarta) sekitar 5 km. Apabila masyarakat Desa Gempolsewu ingin pergi ke kota Kabupaten harus menggunakan alat transportasi seperti angkutan umum dan andong kemudian turun di Pasar Weleri setelah itu bisa naik Bus jurusan Semarang. Luas Wilayah Desa Gempolsewu 219,700 Ha terdiri dari 17 dukuh yaitu: Kerangkong, Sewuni, Tawang Tengah, Tawang Barat, Gempolsewu 1, Gempolsewu 2, Kumpulsari, Karanganyar, Tegal Lapang, Lomansari, Sigentong, Gubuksari, Saribaru, Randusari, Rejosari, Tawang Laut, Bukisan. Luas daerah Desa
Kehidupan masyarakat Desa Gempolsewu cukup dinamis dan hubungan antara mereka cukup baik, rasa solidaritas diantara mereka dapat dilihat apabila salah seorang warga masyarakat terkena musibah atau mempunyai hajatan, warga yang lain akan saling membantu untuk meringankan beban bagi warga yang terkena musibah atau sedang mempunyai hajatan. Desa Gempolsewu memiliki daerah yang cukup luas terdiri dari 17 dukuh, 3.811 Kepala Keluarga, 17 Rukun Kampung dan 85 Rukun Tetangga. Jumlah penduduk desa Gempolsewu berjumlah 12.546. Dilihat dari segi pendidikannya masyarakat Desa Gempolsewu rata-rata mereka mensekolahkan anaknya cukup sampai tamat SD atau SLTP saja, ada dari beberapa penduduk Desa Gempolsewu yang mensekolahkan anaknya sampai tingkat Akademik atau Universitas, itupun bagi keluarga yang cukup dan mampu, ini menunjukkah bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh faktor turun-temurun dari orang tua dan faktor ekonomi.
Kabupaten Kendal mempunyai sektor-sektor yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan, diantaranya perikanan, pariwisata, pertanian, perindustrian/perdagangan, kehutanan dan juga pertambangan. Dari sektor-sektor tersebut, perikanan mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap Kabupaten Kendal terutama dalam mendapatkan Pendapatan Daerah untuk mengelola daerah sebagai implementasi dari UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Oleh karena itu sektor ini menjadi sektor unggulan bagi KabupatenKendal.Untuk mendukung perkembangan di sektor perikanan, Kabupaten  Kendalmemiliki 4 TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yaitu 1) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, 2) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sendang Sikucing di Desa Sendang Sikucing,Kecamatan Rowosari, 3) Tempat Pelalangan Ikan (TPI) Tanggul Malang Desa Korowelang, Kecamatan Cepiring dan 4) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bandengan di Desa Bandengan, Kecamatan Kendal Kota.

2.2       Dimensi Sosial dan Kelembagaan                                          

            Dimensi sosial merupakan dimensi yang dilihat dari tingkah laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga dan sesama lainnya serta penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku. Sedangkan kelembgaan adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas – aktivitas untuk memenuhi kompleks – kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Kelembagaan sosial juga dimaknai sebagai himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.
            Berdasarkan praktikum sosiologi masyarakat perikanan yang telah dilakukan di Desa Gempolsewu Kec. Rowosari Kab. Kendal didapatkan responden dari aspek penangkapan, pengolahan dan pembudidaya, yakni seperti yang tersaji dalam tabel berikut :

2.2.1    Hubungan Patron-klien
Patron-Klien adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat diny atakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan ststus sosial ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnya lebih rendah (Klien). Klien kemudia membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan termasuk jasa pribadi kepada patronnya. Sebagi pola pertukaran yang tersebar, jasa dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul dan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing pihak.Hal ini diperkuat oleh Hefni (2009), hubungan patron klien merupakan salah satu bentuk hubungan pertukaran khusus. Dua pihak yang terlibat dalam hubungan pertukaran mempunyai kepentingan yang hanya berlaku dalam konteks hubungan mereka. Dengan kata lain, kedua pihak memasuki hubungan patron klien karena terdapat kepentingan (interest) yang bersifat khusus atau pribadi, bukan kepentingan yang bersifat umum.Persekutuan semacam itu dilakukan oleh dua pihak yang masing masing memang merasa perlu untuk mempunyai sekutu (encon) yang mempunyai status, kekayaan dan kekuatan lebih tinggi (superior) atau lebih rendah (inferior) daripada dirinya. Persekutuan antara patron dan klien merupakan hubungan saling tergantung. Dalam kaitan ini, aspek ketergantungan yang cukup menarik adalah sisi ketergantungan klien kepada patron. Sisi ketergantungan semacam ini karena adanya hutang budi klien kepada patron yang muncul selama hubungan pertukaran berlangsung. Patron sebagai pihak yang memiliki kemampuan lebih besar dalam menguasai sumber daya ekonomi dan politik cenderung lebih banyak menawarkan satuan barang dan jasa kepada klien, sementara klien sendiri tidak selamanya mampu membalas satuan barang dan jasa tersebut secara seimbang. Ketidakmampuan klien di atas memunculkan rasa hutang budi klien kepada patron, yang pada gilirannya dapat melahirkan ketergantungan. Hubungan ketergantungan yang terjadi dalam salah satu aspek kehidupan sosial, dapat meluas keaspek-aspek kehidupan sosial lainnya.
Dalam praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan yang telah dilakukan di Desa Gempolsewu Kabupaten Rowosari Kecamatan Kendal didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan patron-klien, yaitu dengan adanya nelayan yang tidak memiliki modal untuk melakukan kegiatan penangkapan lalu nelayan tersebut diberi modal oleh seorang bakul ikan untuk melakukan kegiatan penangkapan. Hasil yang didapat dari kegiatan penangkapan tersebut dijual kepada bakul tersebut dengan harga yang telah disepakati.
2.2.2    Paguyuban dan Patembayan
      Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama yang para anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut bersifat nyata dan organis yang dapat diumpamakan tubuh manusia atau hewan. Bentuk paguyuban akan dijumpai di dalam keluarga, kelompok kerabat, rukun tetangga, dan sebagainya. Hal ini diperkuat oleh Manji (2012)yang menyatakan bahwa pemerintah dan aparatur penyokongnya merupakan salah satu faktor makro tersebut yang wajib ditekankan sebagai salah satu faktor penyokong bergeraknya arus dinamika tersebut. Sejak terbukanya sejarah mengenai peerintahan satu persatu teori mengenai fungsi dan peran pemerintah berjejal, dinamikanya berlangsung dengan mobilitas yang cepat. Masalah yang mendera juga satu per satu datang pasca kedatangan sistem pemerintahan. Sontak sistem tersebut mendapatkan tekanan sebagai institusi berwenang menyelesaikan setiap persoalan.
Patembayan adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktuang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran berkala serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk gesselschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik. Contohnya, ikatan pedagang, organisasi pengusaha, atau sarikat buruh.
      Berdasarkan praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan yang telah dilaksanakan di Desa Gedongsewu Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal memperoleh hasil bahwa terdapat kelompok – kelompok yang pada dasarnya digunakan untuk membantu perekonomian disana. Untuk yang bermata pencaharian nelayan terdapat kelompok nelayan yang bernama Seni Barongan.Seni Barongan berfungsi untuk membantu perekonomian nelayan di Desa Gedongsewu. Namun kebanyakan nelayan tidak ikut serta dalam paguyuban Seni Barongan tersebut, karena para nelayan lebih memilih untuk melakukan kegiatan penangkapan secara perorangan.
2.2.3 Perkumpulan Kelompok Nelayan
       Kelompok nelayan merupakan suatu kumpulan nelayan yang terikat secara non-formal. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelompok nelayan tidak berbadan hukum, namun memiliki pembagian dari tanggung jawab berdasarkan kesepakatan bersama. Untuk perjanjian dan kesepakatan biasanya tidak tertulis, namun meskipun begitu terdapat peraturan yang mengikat. Kelompok nelayan biasanya merupakan suatu perkumpulan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, baik nelayan pemilik kapal maupun nelayan buruh. Perkumpulan ini berfungsi sebagai kelas belajar, unit produksi, serta wahana kerjasama antar anggota kelompok atau antara kelompok dengan pihak lain. Kelompok nelayan terbentuk atas dasar keserasian, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, dan sumberdaya), keakraban, kepentingan bersama, dam saling mempercayai satu sama lain, serta memiliki pimpinan untuk menuju tujuan bersama. Hal ini diperkuat oleh Watung et.al (2013), yang menyatakan bahwa kelompok sosial merupakan kumpulan orang dengan pola hubungan nyata yang dapat dianggap sebagai suatu kesatuan.
Berdasarkan praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan yang telah dilakukan, di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal memperoleh hasil bahwa dalam hal penangkapan yang dilakukan oleh nelayan di Desa Gempolsewu, sebagian besar nelayan baik yang masih aktif maupun sudah pensiun dari kegiatan melaut turut ikut serta dan bergabung dalam kelompok nelayan. Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh dari beberapa responden, terdapat beberapa kelompok nelayan di Desa Gempolsewu diantaranya yaitu Kelompok Nelayan Baruna, Kelompok Nelayan Bawal Putih, Kelompok Nelayan Barongan, dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Kelompok nelayan memiliki peran yang besar terhadap kelangsungan profesi nelayan di Desa Gempolsewu. Dengan adanya kelompok nelayan tersebut, dapat membantu para nelayan-nelayan kecil dan nelayan buruh untuk mendapat penghasilan yang lebih melalui sistem bagi hasil serta peminjaman.
Kelompok nelayan memberikan manfaat berupa kemudahan para anggota yang bergabung didalamnya. Kemudahan dalam hal ini dapat diketahui sejak dini, yaitu ketika seorang nelayan ingin ikut serta menjadi anggota kelompok nelayan. Nelayan hanya butuh melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan. Setelah melengkapi berkas-berkas tersebut, maka nelayan dapat menjadi anggota yang sah dari suatu kelompok nelayan. Kelompok nelayan memiliki manfaat yang besar bagi para nelayan yang bergabung dan menjadi anggota. Kelompok nelayan dapat menjadi sarana pembelajaran melalui forum diskusi non formal yang sering kali dilakukan dalam suatu kelompok, untuk membahas suatu permasalahan dalam bidang penangkapan dan menemukan solusinya. Selain itu, kelompok nelayan memiliki hubungan kekeluargaan antar anggota dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan ketika salah satu anggota dalam suatu kelompok nelayan tertimpa suatu masalah, maka anggota lain akan saling bahu-membahu untuk membantu meringankan beban yang ditanggung. Selain itu dalam kelompok nelayan juga dapat terjalin sistem bagi hasil dalam bentuk hubungan kerja antar anggotanya. Hal ini diperkuat oleh Pakpahan et.al (2006), yang menyatakan bahwa pada umumnya dapat dikatakan bahwa upah kerja dengan sistem bagi hasil merupakan bentuk hubungan kerja yang paling banyak dipakai di Indonesia. Sistem ini tidak hanya berlaku dalam usaha perikanan antara majikan pemilik unit penangkapan dan nelayan yang menjadi awak kapal (perahu), namun berlaku juga antara pemilik tanah dan petani penggarap.
2.2.4 Pemerintahan
     Lembaga Negara merupakan lembaga peerintahan Negara yang berkdudukan di pusat, yang fungsi, tugas dan wewenangnya diatur tegas dalam Undang-Undang Dasar (UUD). Pengertian fungsi dalam suatu lembaga pemerintah dalam berbagai peraturan perundang-undangan dirumuskan sebagai suatu cara untuk melakasanakan tugas pemerintahan. Sebaliknya dapat dirumuskan bahwa tugas adalah suatu cara untuk melaksanakan fungsi. Ketidakseragaman pengaturan ini tidak lepas dari kerancuan pengertian fungsi dan tugas. Hal ini diperkuat oleh Batubara (2006), yang menyatakan bahwa salah satu harapan terhadap reformasi adalah menuntun kembali fungsi pemerintah dan aparatnya untuk menjadi pelayan publik, dalam arti tugas pemerintah adalah melayani masyarakat dan bukan sebaliknya masyarakat yang melayani pemerintah. Untuk melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan diperlukan kemampuan dan kemahiran manajerial yang dapat mengintegrasikan seluruh sumber daya demi tercapainya tugas pokok dan kewenangan di dalam lembaga pemerintahan.
     Tanggung jawab pembangunan masyarakat lebih banyak berada pada pundak pemerintah daerah, dan bukan pemerintah pusat. Hal tersebut pun terjadi dalam masyarakat perikanan yang terdapat di Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal. Hal ini disebabkan karena pemerintah daerahlah yang lebih mengenal masyarakatnya dan memahami masalah-masalah yang dihadapi mereka. Pada saat ini, ada kesan bahwa pengembangan masyarakat perikanan diserahkan dan dilepaskan kepada pemerintah pusat. Penyerahan tanggung jawab ini karena memang tugas-tugas pembangunan masyarakat termasuk pantas untuk dilaksanakan. Terutama untuk mengentaskan masyarakat perikanan dari garis kemiskinan. Hal ini dikarenakan kondisi masyarakat nelayan yang sangat memprihatinkan, terutama pada nelayan tradisional dan nelayan buruh. Kondisi seperti ini harus secepatnya diatasi, karena nelayan merupakan ujung tombak pengelola perikanan Indonesia. Apabila hal tersebut tidak segera diatasi, sangat memungkinkan penerus generasi nelayan Indonesia akan semakin sedikit akibat ketidaktertarikan berprofesi sebagai nelayan. Hal ini diperkuat oleh Imron (2005), yang menyatakan bahwa adanya kemiskinan yang dialami oleh nelayan, pengalihan kegiatan ekonomi dilaut dikhawatirkan sulit terjadi sebab para anak nelayan dikhawatirkan tidak tertarik lagi untuk menekuni pekerjaan nelayan. Jika hal itu terjadi kegiatan di darat akan semakin padat, sedangkan laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi akan terabaikan. Akibatnya potensi ekonomi yang dikandung didalamnya akan sia-sia.
     Berdasarkan praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan dapat diketahui bahwa dukungan dan peran pemerintah dibidang perikanan di Desa Gedongsongo Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal masih sangat minim. Keadaan didaerah setempat tidak mendapat dukungan baik dalam bentuk alat tangkap, bibit maupun dana. Dalam bidang dana biasanya masyarakat perikanan mendapat melalui sistem simpan-pinjam disuatu bank atau melalui kelompok atau lembaga tertentu yang terkait. Kurangnya peran pemerintah yang mengakibatkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat nelayan yang dimiliki belum tercapai secara maksimal.
2.2.5 Keagamaan
     Di era sekarang ini, pandangan tentang atheisme kian mengkerucut. Hampir semua masyarakat telah memeluk agama ataupun kepercayaannya. Begitu pula dengan masyarakat pesisir. Sebagian besar atau bahkan seluruhnya telah memeluk agama berdasarkan keyakinan masing-masing. Dengan memeluk agama maka dapat memberikan dampak positif, karena didalamnya terdapat aturan atau hal-hal yang mengikat yang harus dipenuhi oleh setiap individu atau antar umat beragama. Hal ini diperkuat oleh Listiyani (2011), yang menyatakan bahwa berbagai agama telah lahir di dunia ini dan membentuk suatu syariat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termak­tub di dalam kitab-kitab suci baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu Ilahi) maupun yang terdapat dalam agama ardhi (yang bersumber dari pemikiran manusia) atau budaya.
     Berdasarkan  praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan yang telah dilakukan memperoleh hasil bahwa masyarakat perikanan di Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal sebagian besar telah memiliki kepercayaan dan agama untuk dianut. Sebagian besar dari masyarakat perikanan di Desa Gempolsewu memeluk agama Islam. Hal ini terbukti dengan mudahnya kita dalam menjumpai musholla dan masjid yang merupakan tempat ibadah umat beragama Islam di Desa Gempolsewu ini. Dengan banyaknya rumah ibadah umat beragama Islam yang ditemui di sekitar jalan Desa Gempolsewu menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memeluk agama Islam. Masyarakat perikanan di Desa Gempolsewu memiliki suatu kebiasaan atau tradisi yang menjadi ciri khas yang membedakan dengan daerah lain. Tradisi tersebut yaitu sedekah laut. Meski bukan hanya di daerah Gempolsewu saja yang melaksanakan ritual seperti ini. Namun, tentu saja dalam melaksanakan sedekah laut ini memiliki ciri yang berbeda yang telah dikulturasikan dengan masyarakat setempat. Sebuah tradisi yang unik ini memiliki karakter yang bersifat khusus yaitu tidak semua daerah dapat merayakannya, tetapi hanya dilaksanakan oleh daerah pesisir saja.
Kegiatan sedekah laut biasa dilaksanakan tepatnya pada bulan Muharram atau bulan Suro pada penanggalan Jawa. Tradisi persembahan laut ini ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih pada karunia sang Pencipta atas berkah yang melimpah berupa hasil laut dan keselamatan dari Allah SWT selama melaut dan dapat terus lestari. Puncak dari acara sedekah laut dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon. Acara puncak akan diisi dengan pelarungan sesaji ke tengah laut. Di lingkungan masyarakat nelayan tradisi ini selain dijadikan sebagai ritual upacara biasanya juga dijadikan sebagai sarana hiburan rakyat yang tentu saja menampilkan hiburan seperti pagelayaran wayang, pasar malam, dan lain-lain. Hal ini diperkuat oleh Widati (2011), yang menyatakan bahwa tradisi sedekah laut biasanya sering disebut sebagai nyadran laut yaitu membuang atau melarung sesaji ke tengah laut. Tradisi nyadran laut dilakukan rutin setiap tahun pada bulan Sura atau bulan pertama perhitungan Jawa. Proses kegiatan sedekah laut merupakan ritual yang didalamnya terdapat tingkah laku religius aktif, ucapan doa-doa tertentu dan melakukan korban diyakini memberikan kekuatan yang diyakini memberikan energi baru bagi aktivitas masyarakat nelayan. Semakin banyak benda-benda yang disedekahkan menunjukkan keberkahan yang akan diterima pemberi sedekah dimasa yang akan datang. Semakin banyak orang yang berebut sesaji sedekah diyakini member berkah bagi pemberi sedekah. 


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan, kesimpulan yang dapat kami ambil adalah:
1.    Keadaan umum daerah Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari merupakan daerah yang sangat potensial dengan sektor perikanan.Meskipun ikan yang ditangkap merupakan jenis ikan yang bernilai ekonomis rendah, namun nelayan di sekitar Desa Gempolsewu memanfaatkannya sebagai mata pencaharian sampingan maupun utama.Selain berpotensi pada daerah sektor perikanan, Desa Asinan juga berpotensi pada sektor pertanian, banyak nelayan yang menjadi petani sebagai sampingannya sebagai nelayan.
2.    Karakteristik masyarakat perikanan merupakan masyarakat yang kehidupannya melakukan kegiatan penangkapan, pengolahan dan budidayakan.Kehidupanmerekabiasanyaberada di sekitar sektor perikananseperti di wilayahrawa atau pesisir pantai.Merekabiasanyamempunyaikarakter yang kerasdankonsumtif.
3.    Kebiasaan yang ada pada masyarakat perikanan di Desa Gempolsewu ini setiap tahunnya diadakan acara seni budaya barongan . Seni ini terdiri dari para nelayan yang mengekspresikan kelebihan masing-masing.
3.2 Saran
Saran yang dapat kami berikan pada praktikum Sosiologi Masyarakat Perikanan sebagai berikut:
1.    Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan sarana dan prasarana nelayan di Desa Gempolsewu agar tercapai segala kebutuhan untuk menunjang profesinya sebagai nelayan maupun pendapatannya ;
2.    Seharusnya masyarakat desa tersebut lebih bersikap aktif untuk sama-sama memberikan dorongan dan motivasi dalam membangun desa dengan profesi khas daerahnya untuk menjadi lebih baik;
3.    Sebaiknya sebelum memulai praktikum, praktikan sudah menguasai materi yang dipraktikumkan serta menjaga efisiensi waktu agar wawancara dapat berjalan maksimal ; dan
4.    Sebaiknya untuk praktikum kedepan, praktikan sudah mengenal dan memahami tempat untuk praktikum tersebut sehingga praktikum dapat berjalan lebih lancar dan mudah dalam melaksanakan praktikum tersebut.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sosiologi Masyarakat Perikanan (SOSMAPI) - Laporan Praktikum"

Post a Comment

Komentar tidak boleh mengandung unsur :
1. Penghinaan atau pelecehan
2. Spamming
3. Link aktif atau sejenisnya
Terimakasih